Jumat, 27 Juli 2018

Karya Anak TIK (TEKPEN)

Karya Anak TIK Semester IV
Perubahan merupakan sebuah keniscahyaan yang tidak mungkin dapat dihindari. Arus ga di lobalisasi semakin kencang dan menuntut kita untuk selalu melakukan perubahan. Perubahan menjadi tantangan yang harus kita hadapi dan perlu modal dalam diri agar mampu bersaing dalam persaingan global.

Teknologi pendidikan sebagai bidang garapan dan disiplin ilmu yang sudah relative lama di UNSA  Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, mencakup lima kawasan dalam bidang garapanya meliputi, perancangan (design), pengembangan (development),pemanfaatan (Utilization), pengelolaan (management), dan penilaian (evaluation) yang di mana masing-masing kawasannya memiliki kompenen tersendiri. Teknologi Pendidikan yang di singkat dengan TEKPEN merupakan Insiyurnya pendidikan karena TEKPEN merupakan jurusan pertama di FKIP.
Dan salah satu bentuk dari terealisasinya dari lima kawasan dalam bidang garapanya TEKPEN menghadirkan hasil karya teman-teman TIK semester IV melalui mata kuliah ”pengembangan media garapis dan pengembagan media foto” bersama dosen pengampuh dan dosen terbaik di TEKPEN Nurhairunnisah, M.Pd. 




Semangat Menuju Karya Selanjutnya…!!!
Go_TEKPEN
 

Rabu, 25 Juli 2018

Independensi Kader HMI Cab. Sumbawa


MENJAGA INDEPENDENSI KADER HMI CABANG SUMBAWA
SUMBAWA_. HMI sebagai Harapan Masyarkat Indonesia, dan setiap kader harus mampu menjaga independensi baik itu secara etis  maupun secara organisatoris seperti yang di sampaikan oleh SEKJEN HMI Cabang Sumbawa kanda Arjoni pada momentum pelantikan Gabungan Komisariat FKIP, EKONOMI, dan FISIKOMTA_UNSA (22/07/2018). Penegasan independen ini dirumuskan dalam pasal 6 anggaran dasar HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa HMI adalah Organisasi yang bersifat independen dan watak independen bagi HMI adalah merupakan hak Azasi yang pertama, tambah SEKJEN HMI CAB. SUMBAWA.
HMI dan kulitas-kualitas yang dimilikinya menduduki kelompok elit dan berpengaruh dalam generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian, dan kritis adalah ciri dari HMI.  khas dari HMI inilah yang tetap harus dijaga. Sebentar lagi kita menghadapi yang namanya Tahun Politik dimana semua orang, pihak atau oknum akan memanfaatkan kesempatan tersebut baik itu kader ataupun nama HMI demi kepentingan mereka.
SEKJEN juga menyerukan kepada seluruh kader untuk menghadapi tahun 2019 agar tetap menjaga marwah independensi etis dan organisatoris, sebagai wujud pertanggung jawaban sosial HMI terhadap umat dan bangsa. HMI adalah asset umat dan bangsa yang memiliki tradisi intelektual yang kuat, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan idealisme. Oleh karena itu segala bentuk sikap pragmatisme tidak dapat dibenarkan di HMI, apalagi persoalan perebutan kekuasaan politik.

Mempertegas Peran Kohati (HMI_Wati)

Mempertegas Peran KOHATI
Korps HMI-wati disingkat Kohati merupakan organisasi yang memiliki dua fungsi (PDK:pasal 6). Kedua fungsi itu (1) di dalam tubuh HMI Kohati merupakan bidang pemberdayaan perempuan (internal), (2) di luar HMI Kohati merupakan organisasi mahasiswi (eksternal).
Melalui kedua fungsi ini Kohati dapat menjalan aktifitasnya di dalam HMI dan di luar HMI untuk mewujudkan tujuan Kohati “Terbinanya muslimah berkuwalitas insan cita” (PDK: pasal 3) dan tujuan HMI yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT” (AD HMI: pasal 4).
Dalam proses perjalanannya Kohati sejak Kohati di dirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 M di Solo pada Kongres HMI ke VIII sampai hari ini Kohati mengalami banyak persoalan baik yang bersifat internal dan eksternal yang mana persoalan itu membutuhkan sebuah solusi kongkrit agar Kohati secara kuantitas dan kualitas semakin hari semakin baik dan berkembang.
Dalam lingkup badan Koordinasi Kohati HMI Jawa Timur Kohati berjumlah 16 Cabang penuh dan 1 cabang persiapan yang setiap cabangnya terdapat ratusan bahkan ribuan anggota Kohati. 17 cabang tersebut meliputi: Kohati cabang Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Banyuwangi, Jember, (Persiapan) Situbondo-Bondowoso, Probologgo, Pasuruan, Malang, Surabaya, Bojonegoro, Tuban, Jombang, Kediri, Tulung Agung, Ponorogo Dan Pacitan. Dari seluruh cabang ini pasti memiliki persoalan yang beraneka ragam ada yang sama dan ada yang tidak tergantung pada budaya setempat.
Untuk mengatasi suatu permasalahan yang terpenting adalah mengetahui masalahnya dan mencari jalan keluarnya. Masalah yang selama ini cukup mengakar di Kohati dibagi dua klasifikasi:
Pertama adalah masalah ekternal: sebagian besar Kohati mengalami krisis kader yang disebabkan oleh kurang minatnya mahasiswi dalam berorgansisasi sehingga berefek ke HMI dan Kohati dan kurangnya dukungan dari pihak kampus terhadap eksistensi mahasiswa dalam berorganisasi di luar kampus.
Kedua adalah masalah internal bahwa banyak anggota Kohati yang kurang berpasrtisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan Kohati yang dibuat oleh Kohati cabang atau Kohati Komisariat, kurangnya rasa memiliki dan rasa mencintai terhadap kohati karena kurangnya partisipasi anggota kohati inilah sehingga memberikan kesan bahwa kohati kurang menarik.
Kohati sebagai rahim perkaderan HMI akan hadir memberikan solusi dari setiap masalah yang dihadapi oleh Kohati terutama masalah internal. Rumusan yang di tawarkan adalah pertama menjalin pendekatan emosial antara pengurus dan pengurus, pengurus Kohati Badko dan Kohati Cabang, kohati cabang dan Kohati Komisariat dan pendekatan emosional anatara pengurus dan anggota.
Alasan dari pendekatan emosional ini agar terciptanya kekeluargaan yang erat sesama anggota Kohati dengan pendekatan emosional ini akan membuat para anggota kohati me
rasa nyaman dalam berorganisasi, jika sudah nyaman maka akan timbul rasa memiliki dan mencitai terhadap Kohati dengan cara sederhana mulai dari pendekatan emosional, munculnya kenyaman, rasa memiliki dan mencintai Kohati maka seluruh anggota Kohati akan sama-sama merawat dan menjaga yang hasilnya akan saling membesarkan.
Selain cara tersebut ada cara lain yang mana itu adalah hasil dari cara yang pertama yakni memberangktkan anggota Kohati mengikuti training formal Kohati seperti Latihan Khusus Kohati (LKK) dan training for trainer Kohati (TFT Kohati), melalui training formal inilah karakter kohati di bentuk menjadi muslimah yang ideal sebagaiamana tujuan Kohati yang tersebut sebelumnya.
Muslimah yang ideal itu mampu berpikir dan bersikap dengan bijak di era mileneal ini dan menyiapkan dirinya menjadi muslimah terbaik sebagai putri, istri, ibu dan anggota masyarakat serta dapat menyeimbangkan antara urusan domistik dan publik yang setiap muslimah akan dihadapkan pada dua ranah ini. Selain mengikuti training formal Kohati juga mengikuti training non formal salahsatunya pendidikan pra nikah, publick speaking, pelatihan kewirausaan dll.
Jika Kohati mampu mengikuti tarining formal dan non formal ini maka Kohati akan menjadi insan cita seabagaimana yang diharapkan oleh pendiri HMI yaitu kanda lafran pane.
Oleh: Hotijah, Wakil Sekretaris Bidang Eksternal Kohati Badko Jatim