MEMILIH UNTUK
INVESTASI UKHRAWI
Saat usia sudah
menjejak di angka 25, bagi seorang perempuan, prihal jodoh selalu menjadi hantu
yang bergentayangan di ruang pikiran. Ia selalu dirasuki oleh kekhawatiran yang
tak bertepi. Ia seperti disusupi oleh ketakutan yang tak berujung.
Pertantanyaan kapan, siapa, dan di mana pertemuan itu menjadi perbincangan
jiwanya di setiap detik.
Di usia itu,
senyum manisnya tak lagi jujur, ada luka yang sedang bertopeng. Wajah cerianya
tak lagi jernih, ada sedikit keruh dalam setiap tatapan. Tawa riangnya tak lagi
renyah, ada secuil embun di sudut-sudut mata.
Dan dibanyak
kasus, ada banyak saudari kita yang hanya dengan alasan takut keburu tua, lalu
memilih seseorang yang apa adanya. Ia
terpaksa mengiyakan tawaran pernikahan dari seorang laki-laki yang sama sekali
jauh dari kesalihan. Tak masalah jika yang dipilih adalah miskin, kaum
pinggiran, atau tak bertitle tinggi it’s
not problem asalkan agamanya baik. Tetapi jika apa adanya itu tentang Bad
Morality itu akan menjadi onak berduri, yang pasti akan mengganggu di
perjalanan kisah di kemudian kelak.
Duhai kohati
(yang artinya perempuan dalam bahasa HMI). bukankah dalam shalat berjamaah,
syarat imam itu banyak..? Ia mesti seorang muslim, berakal sehat, berilmu,
fasih bacaanya, suci dari hadas dan sebagainya. Begitupun dengan rumah tangga
mu, kohatiku. Ia juga membutuhkan imam yang tidak apa adanaya. Bagaimana mungin kita akan menghabiskan sisa umur
dengan sesorang yang tidak baik? dan itu bisa kita bayangkan betapa
mengerikanya.
Pernikahan bukan
hanya seremonial agar gelar jomblo jadi hilang. Bukan…. pernikahan juga tidak
sekedar untuk menghanguskan status single jadi genap, sekali lagi bukan…
pernikahan adalah perjalanan panjang menuju syurga yang di janjikan itu. Maka,
pilihlah Ia yang sedang mengikhtiarkan diri menuju tempat abadi itu. Seorang
lelaki yang ibadahnya berirama dengan amal shaleh, menebar rahmat bagi sesama.
Seorang pria yang tutur santunya bergandengan dengan komitment nyata.
Senantiasa……. Intinya tak apalah jika Ia tak mempu memberi kita dunia, tetapi
semoga dengan keshalihannya Ia bisa menghadiahkan surga…….untuk kita wahai
kohati ku.
Selain itu,
juga…..tugas pernikahan adalah melahirkan jundi-jundi Ilahi, generasi Rabbani
yang memakmurkan bumi. Ya… kita mesti melahirkan, merawat, dan men-terbiyah anak-anak di kelak hari untuk
menebarkan cinta. Dan itu tidak cukup dengan elusan seorang ibu yang shalihah
saja, kan.? Ia juga membutuhkan gendongan seorang Ayah yang berilmu.
Hidup hanya
sebentar saudariku. Hanya sesaat… maka jadikan pernikahan sebagai investasi
Ukhrawi. Jadikan ikatan suci itu sebagai ladang tuk menuai hasil di akhirat
kelak. Bukankah sudah diingatkan bahwa setelah kita wafat, salah satu pahala
yang mencucur adalah doanya anak yang soleh..?
Tapi..kalau kita
melihat kisahnya Nabi Nuh yang salih dan anaknya kufur . dan Nabi Ya’kub yang
baik tapi sebagian dari anaknya juga jahat. Jadi tidak menjamin iyaa kalau
suami atau ayah yang baik, akan…..???
Iya , aku paham
bahwa hidayah itu milik Allah. Aku mengerti Dialah yang membolak-balikan setiap
hati. Namun yang jadi pertanyaan adalah..? jika bapak yang baik saja belum
tentu msmpu mendidik anaknya agar shaleh, apalagi bapak yang yang jelas-jelas
tidak baik, bukan..?
Naaaaahhhhh
iiitttuuuuuu………
Oleh karenanya lebih
baik terlambat menikah dari pada TERPAKSA
memilih lelaki yang kamu tahu betul perangainya tidak baik. Yang kamu
tahu persis bahwa dengannya kamu tak pernah merasa nyaman. Yang kamu tahu jelas
bahwa ia tak mau dekat dengan Tuhanya.
Ingatlah bahwa
pendiritaan seorang perempuan, tidak dimulai dari Rahim siapa ia dilahirkan.
Tapi penderitaanya dimulai saat ia sengaja memilih pendamping yang tidak baik
or bad morality, and no atitute.
Maka
terakhir…….di catet iya KOHATI syantik. Cinta maahhh nomor sekianlah. Shaleh
yang nomor satu. Tidak perlu dia seorang ustad, cukup kamu lihat dia dari
ukhuah islamiah dan insaniahnya.
Jayalah KOHATI….
Jayalah Perempuan
Indonesia…



