Rabu, 15 Agustus 2018

MEMILIH UNTUK INVESTASI UKHRAWI



MEMILIH UNTUK INVESTASI UKHRAWI
Saat usia sudah menjejak di angka 25, bagi seorang perempuan, prihal jodoh selalu menjadi hantu yang bergentayangan di ruang pikiran. Ia selalu dirasuki oleh kekhawatiran yang tak bertepi. Ia seperti disusupi oleh ketakutan yang tak berujung. Pertantanyaan kapan, siapa, dan di mana pertemuan itu menjadi perbincangan jiwanya di setiap detik.
Di usia itu, senyum manisnya tak lagi jujur, ada luka yang sedang bertopeng. Wajah cerianya tak lagi jernih, ada sedikit keruh dalam setiap tatapan. Tawa riangnya tak lagi renyah, ada secuil embun di sudut-sudut mata.
Dan dibanyak kasus, ada banyak saudari kita yang hanya dengan alasan takut keburu tua, lalu memilih seseorang yang apa adanya. Ia terpaksa mengiyakan tawaran pernikahan dari seorang laki-laki yang sama sekali jauh dari kesalihan. Tak masalah jika yang dipilih adalah miskin, kaum pinggiran, atau tak bertitle tinggi it’s not problem asalkan agamanya baik. Tetapi jika apa adanya itu tentang Bad Morality itu akan menjadi onak berduri, yang pasti akan mengganggu di perjalanan kisah di kemudian kelak.
Duhai kohati (yang artinya perempuan dalam bahasa HMI). bukankah dalam shalat berjamaah, syarat imam itu banyak..? Ia mesti seorang muslim, berakal sehat, berilmu, fasih bacaanya, suci dari hadas dan sebagainya. Begitupun dengan rumah tangga mu, kohatiku. Ia juga membutuhkan imam yang tidak apa adanaya. Bagaimana mungin kita akan menghabiskan sisa umur dengan sesorang yang tidak baik? dan itu bisa kita bayangkan betapa mengerikanya.
Pernikahan bukan hanya seremonial agar gelar jomblo jadi hilang. Bukan…. pernikahan juga tidak sekedar untuk menghanguskan status single jadi genap, sekali lagi bukan… pernikahan adalah perjalanan panjang menuju syurga yang di janjikan itu. Maka, pilihlah Ia yang sedang mengikhtiarkan diri menuju tempat abadi itu. Seorang lelaki yang ibadahnya berirama dengan amal shaleh, menebar rahmat bagi sesama. Seorang pria yang tutur santunya bergandengan dengan komitment nyata. Senantiasa……. Intinya tak apalah jika Ia tak mempu memberi kita dunia, tetapi semoga dengan keshalihannya Ia bisa menghadiahkan surga…….untuk kita wahai kohati ku.
Selain itu, juga…..tugas pernikahan adalah melahirkan jundi-jundi Ilahi, generasi Rabbani yang memakmurkan bumi. Ya… kita mesti melahirkan, merawat, dan men-terbiyah anak-anak di kelak hari untuk menebarkan cinta. Dan itu tidak cukup dengan elusan seorang ibu yang shalihah saja, kan.? Ia juga membutuhkan gendongan seorang Ayah yang berilmu.
Hidup hanya sebentar saudariku. Hanya sesaat… maka jadikan pernikahan sebagai investasi Ukhrawi. Jadikan ikatan suci itu sebagai ladang tuk menuai hasil di akhirat kelak. Bukankah sudah diingatkan bahwa setelah kita wafat, salah satu pahala yang mencucur adalah doanya anak yang soleh..?
Tapi..kalau kita melihat kisahnya Nabi Nuh yang salih dan anaknya kufur . dan Nabi Ya’kub yang baik tapi sebagian dari anaknya juga jahat. Jadi tidak menjamin iyaa kalau suami atau ayah yang baik,  akan…..???
Iya , aku paham bahwa hidayah itu milik Allah. Aku mengerti Dialah yang membolak-balikan setiap hati. Namun yang jadi pertanyaan adalah..? jika bapak yang baik saja belum tentu msmpu mendidik anaknya agar shaleh, apalagi bapak yang yang jelas-jelas tidak baik, bukan..?
Naaaaahhhhh iiitttuuuuuu………
Oleh karenanya lebih baik terlambat menikah dari pada TERPAKSA  memilih lelaki yang kamu tahu betul perangainya tidak baik. Yang kamu tahu persis bahwa dengannya kamu tak pernah merasa nyaman. Yang kamu tahu jelas bahwa ia tak mau dekat dengan Tuhanya.
Ingatlah bahwa pendiritaan seorang perempuan, tidak dimulai dari Rahim siapa ia dilahirkan. Tapi penderitaanya dimulai saat ia sengaja memilih pendamping yang tidak baik or bad morality, and no atitute.
Maka terakhir…….di catet iya KOHATI syantik. Cinta maahhh nomor sekianlah. Shaleh yang nomor satu. Tidak perlu dia seorang ustad, cukup kamu lihat dia dari ukhuah islamiah dan insaniahnya.

Jayalah KOHATI….
Jayalah Perempuan Indonesia…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar