Tak
ada yang menyesakan bagi seorang yang memendam rasa selain terus menerus
mencekik diri dengan hayalan. Ia hanya mempu memeluk raga sang pujaan dalam
maya, tanpa bisa menyentuh parasnya dalam nyata. Ia hanya sanggup menyebut nama
sang kekasih dalam sepi, tidak dalam kata apalagi deklarasi. Hanya puisi-puisi
mellow yang menjadi sahabat penghibur hati. Hanya dawai-dawai pedih yang menjadi
teman pelipur lara. Pula,,, hanya mimpi-mimpi rindu yang menjadi karib pengusap
sendu……….
Malang
sekali….. cinta yang semestinya menghadirkan pesta, malah mengundang air mata.
Malam terasa panjang sebab mata tak jua lelap. Siang terasa lelah karena
harapan tak jua usai. Sekali lagi, malang sekali orang-orang yang mencintai
dalam diam. Hehehheeeeeehehheeeeeeee……
Duhai……..
ingin aku bertakziah, menegok senyummu yang tak lagi hidup. Mengucapkan
belasungkawa atas tawa yang sudah redup.
Dan mati di bunuh sepi, . aaiiiiiiisssshhhhhhh…..
Sebenarnya
orang-orang yang menyedihkan seperti itu adalah budak-budak rasa. Mengabdikan
diri pada perintah hati. Padahal seharusnya mereka sadar, selain hati Allah
juga menganugrahkan akal.
Hati
itu ibarat busur, dan akal adalah penariknya. Hati itu seolah musafir, maka
akal adalah pemandunya. Juga, hati itu seperti mobil, lalu akal adalah
pengemudinya.
Jadi,
mengapa kita bersedih karena rasa yang terbendung..? jawabanya sebab, kita
menjadikan perasaan sebagai tuan dan tak mengakui akal sebagai pahlawan. Orang-orang
boleh bilang bahwa hati tidak bisa memilih, sebab ia seperti hujan yang jatuh
pada tempat yang ia tuju. Namun… pikirkan…!!! Kita ini bukan hujan, kan..? kita
ini manusia. Mahluk terbaik yang dihadiahi akal oleh Allah. Naahh ….jika
seandainya hati terperosok dan tak bisa bangkit karena perasaan, mungkin ada
yang tidak beres dengan akal mu. Periksa ….!!! Hehehehheeeee
Yang
ingin kutanyakan padamu adalah….. apakah kamu akan menerima, seseorang yang
kedatanganya tak pernah kau tunggu? Apakah kamu akan mengangguk, saat ia
menawarkan ikrar suci tapi dihatimu ada yang lain? Apakah kamu justru akan
menggelengkan kepala, menolak hanya alasan tidak cinta padahal dia baik..?
Wahai
…. Para penghamba perasaan, sudah jelas Rosulullah mengingatkan bahwa, akan terjadi
fitnah dan musibah besar tatkala kita menepis uluran tangan dari seseorang yang
shaleh dan baik agamanya. Duhai engkau para abdi si merah jambu, bukankah
al-faruq ‘Umar Ibnu khatab pernah bertanya, “jika cinta menajdi alasan sebuah
pernikahan, lantas dimana letak iman? Dimana…?
Sungguh
seba’da nikah, yang kau butuhkan bukan lagi paras menawan, tetapi senyum ramah
yang menentramkan. Demi Allah setelah ijab Qobul, yang kau butuhkan bukan lagi
puisi-puisi indah, namun ucapan santun dan bincangan penuh hikmah. Wallahi pasca para saksi berkata ‘sah’yang
kau butuhkan bukan lagi senandung lagu-lagu romantic, tetapi seseorang yang
siap mendampingi dalam kehidupan pahit maupun manis.
Tak
apa jika kamu ingin menikah dengan dia yang kamu cintai. Tak apa, justru bagus.
Namun tatkala dia tidak mencintai mu, jangan memaksa, apalagi menunggu padahal
usia terus bertambah. Padahal yang di tunggu boro-boro mau datang, kamu yang
sudah tersengal-sengal mengejar cintanya pun malah diabaikan. Dan heiiiyyy
kamu… memilih untuk menampung harapan pada orang seperti itu.?
Untuk
kamu yang merindukan bahagia, jika hati kita sudah disesaki oleh selain-Nya
maka ber-istigfarlah mohon ampun kepada Allah. Sebab jangan sampai Dia cemburu
dengan rasa-rasa yang di rawat tanpa melibatkn-Nya. Gantungkan tali harapanya
hanya kepada-Nya. Tidak kepada selain-Nya. Karena apa..? karena mahluk tak
punya apa-apa, tak bisa apa-apa dan apalagi memberi apa-apa.
Mari
kita jadikanlah Allah sebagai alasan. Ayuk, kita jadikan surga sebagai tujuan.
Semoga dengan begitu, kisahmu tak akan serumit ini. Sederhana. Persis sebagai
gadis jelita yang menerima pinangan Julaibib, lelaki miskin yang buruk di rupa
namun tampan di hati. Mengapa…? Sebab ia menerimanya dengan keutuhan cinta.
Karena Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar